Rasul dan Nabi
April 29, 2007 by brami-10
Siapakah di antara kedua jabatan ini yang lebih penting? Jawaban yang mengejutkan, saya dapatkan hari ini Minggu tanggal 28 April 2007, pukul 10 pagi waktu Taipei. Sebelumnya saya ingin bercerita, kemarin saya diajak oleh dua teman saya ke kebaktian pendewasaan MRII Taipei menjadi GRII Taipei dimana pendeta Stephen Tong sendiri yang akan meresmikan sebuah momen penting dan bersejarah ini. SELAMAT buat semua elemen GRII Taipei dari pendeta Nico beserta istri, jemaat, pelayan dan semuanya yang telah bekerja keras melayani Tuhan di Taipei ini khususnya di GRII Taipei ini. Semoga Nama Tuhan makin dimuliakan saja.
Kebaktian dan kotbah berjalan sesuai dengan ciri khas kebaktian reformed pada umumnya yang kaku dan menegangkan, namun bukan itu yang penting yang ingin saya bahas di dalam blog ini. Di tengah2 kotbah Pak Tong, ia menanyakan pertanyaan seperti di kalimat pertama saya diblog ini. Setelah itu ia menjelaskan bahwa tiga kali di dalam alkitab perjanjian baru rasul di tulis terlebih dahulu disbanding dengan nabi. Apakah ini suatu kebetulan? Tidak, jelas Pak Tong. Ini merupakan suatu cerminan bahwa Rasul adalah lebih penting daripada Nabi. Karena Rasul berbicara mengenai penggenapan janji Tuhan dan Nabi hanya berbicara (bersabda) mengenai bayang2 janji Tuhan (karena belum terbukti). Nah pertanyaanku: Apakah benar bahwa Rasul lebih penting daripada nabi?
Menurutku jelas tidak. Seperti kata Alkitab, tidak ada seorangpun yg lebih mulia dari yang lain. Aku ingat murid2 Tuhan Yesus pada waktu itu, ketika itu mereka berdebat siapakah diantara mereka yang terhebat. Jelas sekali bahwa mereka sama. Mereka mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sama – sama pentingnya. Aku juga ingat mengenai perumpamaan kebun anggur. Di situ dikisahkan ada tiga grup orang. Grup yang pertama adalah orang2 yang mempersiapkan lahannya dan menabur benih. Grup yang kedua adalah orang2 yang merawat kebun tersebut, memberi pupuk dan sebagainya. Grup yang ketiga adalah orang – orang yang menuai/ memetik hasilnya. Manakah di antara mereka yang lebih penting? Jelas tidak ada! Mereka semua penting. Dan yang terpenting adalah Allah sendiri yang memberi pertumbuhan pada benih2 tersebut. Atau perumpamaan lainnya mengenai bangunan (since I am a civil engineer ^^ haha). Di dalam suatu bangunan di sana terdapat banyak sekali elemen yang ada. Mulai dari pondasi, struktur bangunan atas, atap, interior dan sebagainya. Manakah di antara mereka yang lebih penting? Tentunya semua itu penting. Namun mereka mempunyai fungsi yang berbeda namun tanggung jawab yang sama besarnya. Jika tidak ada pondasi dan tidak ada struktur atas, bangunan tersebut akan rapuh, karena seperti orang bodoh yang membangun rumahnya diatas pasir. Jika tidak ada atap, bisa dibayangkan bagaimana kita hidup di dalam rumah yang tidak beratap, hujan kehujanan dan panas kepanasan ^^ hehe. Dan juga jika tidak ada suatu interior yang nyaman, kitapun akan tidak dapat menikmati rumah tersebut dengan nyaman.
Beberapa hal saya sangat setuju dengan ajaran pak Tong yang sangat keras. We have to do the things right! But remember we also need to do the right things! Dalam beberapa kritik dari Pak Tong sangat tepat dan itu sangat bagus jika dilakukan dengan cara yang lebih tepat. Karena jika tidak itu juga dapat membuat perkembangan yang kurang bagus di gereja. Beberapa jemaat dari gereja GRII Taipei yang saya kenal, menjadi mirip dengan tauladan yang bapak pendeta Stephen Tong lakukan, yaitu mengkritik. Lebih baik jika kita itu saling membangun iman di antara orang Kristen, bukan nya malah menjatuhkan dan mengkritik habis – habisan, padahal mereka terkadang belum benar – benar tahu permasalahan yang ada (mungkin mereka juga kurang berpengalaman seperti Pak Tong sendiri). Namun dalam banyak hal saya pandang itu kurang baik. Kasus nyata yang terjadi seperti pagi ini ketika saya datang masuk ke dalam gedung kebaktian, saya mengeluarkan HP saya dan memegang di tangan saya. Ketika itu salah seorang teman di GRII tanpa tahu apa2 langsung mengkritik dengan nada yang sangat pedas, “Di gereja main HP ae!!” Sinis betul pikirku. Dan saya memang tahu anak tersebut memang sangat sinis di berbagai kesempatan. Padahal pada waktu itu saya sedang memastikan bahwa saya sudah mensilent HP saya. Di lain kesempatan yang lalu di GRII, saya pun menemui hal yang serupa dengan beberapa anggota gereja yang lainnya. Apakah itu buah dari didikan GRII? Saya harap tidak.
Saya ingat juga pada kritik yang dilontarkan saat kotbah mengenai Paus sebagai Kepala gereja Katolik. Pak Tong mengkritik bahwa Gereja seharusnya yang menjadi Kepala adalah Kristus sendiri. Dan Alkitab yang adalah Firman Allah adalah pedoman utama kita. Sehingga seharusnya bukan Paus yang kita ikutin namun Bible. Itu benar. Namun kritik tersebut kurang tepat. Karena jelas bahwa gereja Katolik mengangkat Paus bukan untuk menggantikan Kristus maupun untuk menggantikan Alkitab. Namun intinya untuk menjadi gembala yang menggembalakan domba – domba Allah di dunia ini (saya sudah coba cari di beberapa sumber di internet mengenai hal ini). Saya justru khawatir bahwa Pak Tong sendiri yang menjadi seperti orang – orang yang Pak Tong sendiri kritik, yang saya harap tidak, karena Indonesia butuh orang2 seperti bapak juga. Saya ingat betapa bapak “membanggakan” hasil dan buah dari pelayanan bapak selama ini. Betapa bapak “membanggakan” semuanya itu tidak ada sepeserpun bantuan dari pemerintah di dalam semua pelayanan bapak. Saya rasa itu bagus, independensi yg bapak pegang, namun jangan sampai itu menjadi batu sandungan juga bagi orang – orang lain.
Kritik – kritik diatas dimaksudkan bukan untuk memecah belah. Namun agar kita dapat saling membangun dan memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai Allah sendiri dan seperti yang Pak Tong katakan sendiri bahwa kita harus jeli dan kritis dalam mendengar kotbah baik sekalipun itu dari Pak Tong sendiri, bukankah begitu? I want to give one verse from the bible. I take it from Matthew 5:16 “Let your light shine before others, so that they may see your good works and give glory to your father who is in heaven.
Wah… gini dong! Bener-bener analisa yang berani dari brami nih!
Saya terkadang juga melihat hal yang sama. Saya melihat banyak hal yang baik dari pendirian Pak Tong, dan banyak hal yang sangat keren dalam khotbah-khotbah GRII. Tetapi terkadang saya juga melihat bahwa dia dan jemaat GRII terkadang terlihat kurang mengasihi dan kurang rendah hati. (Tapi Pak Andi Halim dari GRII Ngagel sangat rendah hati sih.. Perkecualian kali ya?)
Tapi saya jadi mikir mungkin GRII ini adalah wadah bagi pemikir-pemikir seperti mereka ya? Maksud saya, kan ada macam-macam gereja yang mewadahi berbagai macam orang Kristen. Jadi mungkin GRII memang harus ada untuk mewadahi orang-orang reformed dan mereka juga adalah sisi ekstrim pendulum yang baik untuk mengimbangi sisi ekstrim satunya.
Soal rasul dan nabi, saya kurang paham. Coba saya renungkan dulu ya.
Selanjutnya, harus Kusumorestu Mertowijoyo yang harus kasih comment di sini nih, menurut pandangan orang GRII. Hihihi…
Sekian dulu.
bravo buat abraham nih…, mungkin aku saja ‘tidak berani’ menuliskan ‘kebenaran’ ini, hanya karena takut disalahpahami, hehehe…
Tutu mana ya?:p
haiyaah…1001 Gereja berdiri dengan 1001 tafsir-nya (ttg Alkitab) sendiri - sendiri…pusing…
Kenapa koq Rasul dulu baru nabi? Di buku “Kerajaan Allah, Gereja dan Pelayanan” (http://www.momentum.or.id/produk/index.php?act=detil&pid=10400143) pak Tong bilang kalo untuk mengerti nubuat dari perjanjian lama, kita harus melihatnya dari perspektif perjanjian baru. Nabi itu dipakai Tuhan untuk nulis perjanjian lama, dan rasul dipakai Tuhan untuk nulis perjanjian baru. Perjanjian baru adalah kunci untuk mengerti perjanjian lama. So far sih, aku puas dengan pemikiran ini.
Setahuku (kalo saya salah ya mohon maaf), maksud pak Tong bukanlah menimbang-nimbang mana yang lebih berharga di hadapan Tuhan; nabi atau rasul (yang jelas dibandingin ama dua kelompok itu, si Tutu mah nggak ada apa-apanya). Yang menjadi pokok bahasan di sini adalah bagaimana kita sebagai jemaat haruslah menjadikan perjanjian baru sebagai basis dalam melihat perjanjian lama. Beberapa hal di dalam perjanjian lama merupakan tipologi yang harus dilihat dengan kacamata perjanjian baru (contoh: Kita khan udah nggak harus nyembelih kambing buat menghapus dosa kita, karena hal itu sudah digenapkan di dalam kematian Kristus di kayu salib. Dia menjadi Anak Domba Allah yang disembelih buat pengampunan dosa umat-Nya.
Demikianlah penjelasan Tutu, apabila terselip kesalahan, mohon dikoreksi. Kalo nggak setuju ya monggo wae, tapi alangkah baiknya apabila argumen anda didasarkan pada prinsip Alkitab supaya Tutu juga bisa dicerahkan.
May the good God bless all of us!!!
Kusumorestu “Tutu” Mertowijoyo
Yah saya rasa penjelasan Tutu masuk akal juga, dalam arti kita untuk mengerti Perjanjian Lama kita perlu melihat Perjanjian Baru dan sebaliknya pula untuk adanya penggenapa di Perjanjian Baru kita perlu pula melihat Perjanjian Lama.. Mungkin saya yang salah dalam menangkap kotbah beliau… Thanks Tutu…
Biasanya orang GRII yang baru bertobat dan belom matang itu yang paling banyak bikin reseh. Nggak cuman GRII kali ya? Buktinya, di jamanya Rasul Paulus, do’i sampe bilang ke Timotius (I Timotius 3:6) bahwa salah satu syarat menjadi penilik jemaat adalah bukan seorang petobat baru, sebab dia bisa sombong dan iblis bisa menyebabkan dia jatuh (An elder must not be a new believer, because he might become proud, and the devil would cause him to fall, I Tim 3:6-New Living Translation).
Ane dulu juga sombongnya minta ampun pas baru-baru ikut GRII. Tapi sekarang ane udah nggak seberapa sombong……….Oops, koq ane malah menyombongkan ketidak-sombongan ane ya???
Masalah apakah pak Tong sombong apa nggak, yang paling tahu ya cuman Tuhan. Anyway, udah beberapa kali aku melihat pendeta yang lebih “sopan” dari pak Tong, tapi dalam kehidupan sehari-hari mereka ternyata tidak lebih suci dari pak Tong (ada yang jadi hamba uang dan/atau oportunis, dll–eit, bukan berarti aku ngomong kalo semua hamba Tuhan yang lebih “sopan” dari pak Tong itu pasti matre dan /atau oportunis lho).
So, I think we must aware there is more than meets the eye. And that phenomena and essence are sometimes negatively correlated. Hehehee
Terjemahan: Ada yang lebih daripada yang kelihatan. Dan, fenomena dan esensi kadang-kadang bertolak-belakang
Masalah apakah pak Tong sombong apa nggak, yang paling tahu ya cuman Tuhan. Anyway, udah beberapa kali aku melihat pendeta yang lebih “sopan” dari pak Tong, tapi dalam kehidupan sehari-hari mereka ternyata tidak lebih suci dari pak Tong (ada yang jadi hamba uang dan/atau oportunis, dll–eit, bukan berarti aku ngomong kalo semua hamba Tuhan yang lebih “sopan” dari pak Tong itu pasti matre dan /atau oportunis lho).
So, I think we must aware there is more than meets the eye. And that phenomena and essence are sometimes negatively correlated. Hehehee
Terjemahan: Ada yang lebih daripada yang kelihatan. Dan, fenomena dan esensi kadang-kadang bertolak-belakang.
Saya sering bilang Agnes Monica itu sombong. Tapi Pak Adhi temen kantor saya bilang Agnes itu tidak sombong. Agnes cuma percaya diri, karena dia emang hebat. Kita aja orang Indonesia yang sukanya merendah-rendah sampe gerah kalo liat orang percaya diri.
Saya jadi berpikir hal yang sama tentang Pak Tong. Mungkin beliau memang tidak sombong. Dia cuma gemes liat orang Kristen itu ga ada yang mau berjuang keras untuk Tuhan. Makanya dia mau set examples. Jika saya melihat dengan cara seperti itu, saya jadi melihat Pak Tong tidak sombong. Apalagi yang dia katakan memang yang dia lakukan.
Cuman mungkin ada orang-orang yang tidak bisa menerima hal itu. Jadi mungkin ada cara lain yang dapat dilakukan Pak Tong supaya semoga-moga tidak menjadi batu sandungan.
What do you think?
Hey semua, kalau boleh ikutan nimbrung:
Tentang Nabi dan Rasul, berikut merupakan satu ayat dari Efesus 4:10-12 yang merupakan salah satu dasar kepercayaan Kristen Karismatik dalam hal ini
“He who descended is the very one who ascended higher than all the heavens, in order to fill the whole universe.) It was he who gave some to be apostles, some to be prophets, some to be evangelists, and some to be pastors and teachers, to prepare God’s people for works of service, so that the body of Christ may be built up”
Nah, jadi seperti yang bisa dilihat, saya pikir pendapat Pak Tong hanya berlaku kalau nabi2 sudah tidak ada lagi, sedangkan orang2 Kristen karismatik masih percaya bahwa nabi2 masih ada dan bernubuat sampai hari ini dan akan terus sampai kedatangan kedua nanti. Contoh nabi saat modern yang diakui oleh gereja2 karismatik adalah Cindy Jacobs, yang juga sering mengajar dan mengeluarkan buku mengenai kenabian, nubuat, dan lain sebagainya.
Lalu juga, tidak semua rasul2 melihat kegenapan nubuatan2nya misal rasul Yohanes di pulau Patmos mendapat wahyu (dan bisa dikelompokkan sebagai bernubuat juga kan?) bahwa Tuhan Yesus akan datang kedua kalinya dan ia melihat semua hal2 yang berhubungan dengan peristiwa tersebut. Sampai saat ini orang2 Kristen masih menunggu penggenapan nubuatan tersebut. Maka, point bahwa seorang rasul lebih hebat daripada nabi karena penggenapan nubuatan adalah tidak benar.
Wah… ketinggalan berita nih…
Saya sebagai salah satu jemaat dari GRII Reformed mohon maaf bila ada salah seorang yang Pak Bram sebut sebagai ‘teman’ di GRII tanpa tahu apa2 langsung mengkritik dengan nada yang sangat pedas, “Di gereja main HP ae…”. Ketika kita berkata dia teman ku, setidaknya kita minimal tahu sama tahu walau belum kenal dekat dan mungkin juga ada faktor ketidaksengajaan/bercanda sebab ada ae…nya, ciri khas bercanda dengan sopan…tapi kalau perasaan sudah bermain, akan cukup sulit untuk menanggapi suatu aksi yang ditujukan kepada kita …
“Apakah itu buah dari didikan GRII? Saya harap tidak”.
Dalam hal ini, Pak Bram memakai kata GRII yang menunjukkan kepada seluruh elemen GRII, jadi menurut saya hal itu memang bukan buah dari didikan GRII. Setiap manusia memiliki keunikan tersendiri dari cari penyampaian, cara menyikapi, semuanya… jadi hal ini dikembalikan ke masing-masing pribadi.
Kebaktian dan kotbah berjalan sesuai dengan ciri khas kebaktian reformed pada umumnya yang kaku dan menegangkan –> (hiperbola mode double on) hahaha… kaya ada teroris aja sampai tegang-tegang…. Engga lah … ga gitu banget…
Saya melihat bahwa BacaProfileDulu sangat memahami/terlebih dahulu menangkap background dari apa yang disampaikan oleh Pembicara. Sama halnya dengan petikan ini: “Karena jelas bahwa gereja Katolik mengangkat Paus bukan untuk menggantikan Kristus maupun untuk menggantikan Alkitab. Namun intinya untuk menjadi gembala yang menggembalakan domba – domba Allah di dunia ini”. Hal ini saya lebih melihatnya dari sudut pemberlakuan surat Indulgensia dimana saat itu Paus seolah-olah berperan secara langsung sebagai Tuhan dengan menghapus dosa melalui praktek penjualbelian surat tersebut.
“Beberapa hal saya sangat setuju dengan ajaran pak Tong yang sangat keras”.
Sangat keras di sini agak rancu. Keras tidaknya suatu ucapan sangat berhubungan dengan perasaan seseorang. Kalau lagi senang, apapun ok. Namun kalau sudah bad mood, ditoel aja bisa langsung meledak… Bagi saya, orang Kristen harus berani menyuarakan Firman Tuhan apa pun konsekuensinya…, benar katakan benar, salah katakan salah.
“Kritik – kritik diatas dimaksudkan bukan untuk memecah belah. Namun agar kita dapat saling membangun dan memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai Allah sendiri dan seperti yang Pak Tong katakan sendiri bahwa kita harus jeli dan kritis dalam mendengar kotbah baik sekalipun itu dari Pak Tong sendiri, bukankah begitu?”
Sayang sekali ketika itu, selesai berkhotbah Pak Tong tidak menyediakan waktu untuk tanya jawab. Apabila ada sesi tanya jawab, mungkin waktu itu Pak Bram pasti akan bertanya langsung kepada Beliau… .
Terlepas ada tidaknya sesi tanya jawab, kritik Bapak akan sangat membangun bila disampaikan secara langsung/disampaikan dulu ke Pdt. Nico sehingga dapat diperjelas walaupun belum tentu akan sesuai dengan apa yang Bapak inginkan, mengingat Pak Tong sangat jarang menggunakan internet.
Soli Deo Gloria
Rendi (Tulisan di atas adalah pendapat pribadi saya sendiri)